Monday, 28 September 2009

KISAH SEORANG PRAMUWISMA - ( INTRODUCTION TO JOURNALISM )



   
      Kebahagiaan yang dirasakan sebagian besar anak seusianya ternyata hanya sebuah mimpi indah yang kelabu bagi Kisni Risnawati. Seorang perempuan muda ini berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah yang lahir pada 25 mei 1991. Kisni kini tengah bekerja sebagai pramuwisma / pembantu rumah tangga di ibukota metropolitan Jakarta selama dua tahun. Di umurnya yang genap 17 tahun sekarang ini, demi tuntutan mencari sesuap nasi, kisni bertekad untuk mendapatkan mata pencaharian yang layak. Beberapa sanak saudara kisni, banyak yang telah memiliki pekerjaan di Jakarta, itulah salah satu alasan yang membuat kisni tergiur untuk berjuang dengan mempertaruhkan nasibnya mencari nafkah sendiri. Pada mulanya ketertarikan dan minat itu timbul setelah melihat beberapa kerabat maupun saudara pramuwisma yang pulang kampung setiap lebaran. Ditunjang  pula dengan melihat penampilan para kerabatnya itu yang seolah-olah hidup di kota besar gampang menghasilkan uang. Dengan niat bulat yang kisni pegang, maka dia pun memberanikan diri meneruskan hidupnya di kota metropolitan ini.


      Kisni sedari kecil sudah merasakan ‘broken home’. Kisni merasakan masa kecilnya telah terenggut dan suram. Ayah dan ibunya telah berpisah sejak dia masih kecil. Ayahnya meninggalkan keluarganya dan hingga kini tidak tahu pasti dimana keberadaan ayah kandungnya. Ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang pengangguran dan menopang hidup pada keluarganya. Ibunya bekerja sebagai baby sitter di daerah bangka, Jakarta selatan, namun kisni jarang sekali dapat menghabiskan waktu bertemu dengan ibunya. Kesibukan ibunya seringkali mengurungkan niat kisni untuk berbagi kasih. Kisni anak pertama dari dua bersaudara, dia mempunyai seorang adik perempuan yang masih balita dan kini tinggal bersama ayah tirinya di kampung. Hubungan keluarga kisni setelah ibunya menikah lagi sangatlah tidak harmonis. Kisni sering sekali merasakan miris kesepian mengingat kasih sayang orang tua yang di dapatnya sangatlah kurang. Traumatik sering hadir menghampiri perempuan muda ini. Harapannya mempunyai orang tua yang merangkul dengan cinta telah buyar dan terhempas begitu saja. Itupun yang membuat kisni acap kali mengurungkan niatnya untuk pulang kampung. Kisni lebih merasakan nyaman dan betah menetap di Jakarta. Ayah tirinya pun memiliki reputasi yang cukup buruk di daerah asalnya. Kisni  merasa sering diperlakukan kasar dan tidak adil. Pandangan kisni mengenai ayah tirinya hanyalah sesosok pria yang licik dan tidak bertanggung jawab pada keluarganya. Kenyataan pahit yang harus dihadapi ini membuat pikirannya sering berkecamuk. Namun di balik itu dia tetap mempunyai secercah harapan untuk melanjutkan hidup di masa mendatang.


      Kisni hanya dapat mengeyam pendidikan sampai tamatan SMP. Terbentur masalah kesulitan ekonomi, sehingga sulit baginya untuk mecapai cita-citanya meraih pendidikan yang lebih tinggi. Sejak duduk di bangku kelas 6 SD, pada saat kisni berusia 12 tahun, dia telah membantu Ibunya bertani, berladang maupun usaha kecil-kecilan. Rutinitas yang hampir dijalani tiap hari adalah bertani dan berladang. Di waktu lainnya kisni harus menghabiskan hari-harinya di sebuah toko kecil untuk membuat perhiasan2 wanita, seperti hiasan konde, bulu mata palsu, dll. sesuai pesanan. Setelah barang-barangnya tersebut jadi, kisni harus mengantarkan ke juragan atau ke pabrik yang bersangkutan demi mendapatkan upah kerjanya. Tiga tahun kisni berkecimpung di bidang ini. Ibunya pun mendukung kisni bekerja pada saat itu. Dengan pengalaman sudah pernah bekerja menguras tenaga itulah yang membuat kisni bersemangat pada saat ingin melaju hidup menuju Jakarta. Sungguh gigih pengorbanan kisni pada saat itu, dimana dia harus bisa membagi waktu antara sekolah dengan beban kerjaan yang dipikulnya. Hari-haripun kian bergulir dan kisni mampu mengelola waktunya dengan baik.


      Pandangan hidup dan cita-cita kisni sangatlah terpuji dan tidak muluk-muluk. Dia hanya ingin membahagiakan Ibunya dengan usaha keras membanting tulang menjadi pramuwisma. Untuk prospek ke masa mendatang, dia pun tidak ada gambaran sama sekali. Ksini hanya ingin terus menerus mencari uang, lalu hasil jerih payahnya tersebut diberikan pada ibu dan adiknya di kampung. Kisni termasuk remaja yang sedikit pendiam dan susah untuk bersosialisasi dengan orang yang tidak begitu dikenalnya. Sifat pemalunya itu kerap kali membuat dirinya susah untuk berinteraksi ketika berada di suatu lokasi atau lingkungan baru. Beberapa kejadian awal pada saat pertama kali bekerja, seringkali dia merasa sungkan pada saat berbelanja, diajak berjalan-jalan ke mall maupun ke tempat rekreasi. Tetapi lama kelamaan seiring berjalannya waktu sifat pemalunya itu dapat berangsur hilang. Sosoknya kini mandiri, giat, pantang menyerah dan sungguh-sunguh pada saat bekerja.


      Kisni lantang mengatakan kalau bekerja di Jakarta membuatnya lebih terhibur dari masalah kepenatannya di kampung. Jenuh, jemu dan kesedihan memang kadangkala hadir bermunculan dibenaknya, namun kisni menyanggahnya dengan berbagai macam aktivitas. Kisni sering diajak bepergian didaerah ibu kota ini, dengan modal itu, dia jadi mengetahui banyak lokasi-lokasi tempat di Jakarta. Apabila pekerjaan rumah tangga telah diselesaikannya. Kisni gemar sekali memanjakan dirinya di depan televisi. Berbagai macam suguhan sinetron seringkali ditontonnya. Di waktu sore hari pun, kisni sering meluangkan waktunya jalan-jalan sore. Di umurnya yang terbilang muda, kisni pun pernah dilanda mabuk asmara. Kisni menyadari dirinya jatuh cinta pada seorang pemuda yang bertempat tinggal tidak jauh dari tempatnya bekerja. Awal mula perkenalan, pada sore hari saat kisni sedang membeli makanan yang diminta oleh majikannya di dekat rumah, ada seorang pemuda yang mengajaknya berkenalan. Kisni beberapa kali pernah menangkap sosok pemuda tersebut berada di sekitar rumah. Setelah berkenalan dan bercakap-cakap maka baru tahu bahwa pemuda tersebut tinggal tidak jauh dari kediaman rumah tempat kisni bekerja. Kejadian hari itupun berangsur menjadi kebahagiaan tersendiri di lubuk hati kisni. Beberapa kali pertemuan dengan pemuda yang bernama Rahaji  merajut kisah tersendiri bagi kisni yang tengah dilanda cinta pertamanya. Bincang – bincang perkenalan tersebut berlanjut ke hubungan telepon, dan saat kisni sedang tidak terlalu sibuk bekerja, intensitas mereka untuk bertemu pun sering dilakukan. Pada akhirnya hingga sekarang hampir setahun kisni merajut cinta dengan rahaji. Berbagai macam kisah menariknya selama bekerja di Jakarta menjadi pengalaman untuk bekal hidupnya di masa mendatang. Sampai detik ini kisni merasa nyaman menjadi pramuwisma dan belum ada niat lain untuk mengganti profesi.


      Seorang anak selayaknya menghabiskan masa kecilnya dengan cara-cara yang menyenangkan. Bebas melakukan apa saja yang diinginkannya, belajar atau sekolah, hingga bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Kisni menjalani fase-fase alur hidupnya dengan jalan lain, yang tidak semua orang pernah menempuhnya. Namun kisni tetap bersemangat menyongsong masa depannya. Berbahai macam konflik, aral rintangan yang menghadang, batuan terjal yang pernah menghempas hidupnya dijadikan hikmah untuk dipetik. Kisni menyadari bahwa setiap manusia mempunyai jalan hidupnya masing-masing, dan hambatan resiko maupun konsekwensi yang menghalang dapat dilawannya. Ksini hanyalah seorang perempuan muda yang menjalani proses berusaha sekuat tenaga, mencoba tolerasi maupun kompromi dengan apa yang sedang dijalaninya. Demi kelangsungan hidupnya agar tetap stabil dan bahagia kelak.

No comments:

Post a Comment